Senin, 21 Desember 2020

PERAN SERTA TANTANGAN USAHA BAMBOO STRAW( SEDOTAN BAMBU ) DALAM MENINGKATKAN EKONOMI KREATIF INDONESIA


     Semakin berkembangnya zaman,tantangan manusia dalam mengelola sampah dan menjaga bumi semakin sulit. Pertumbuhan penduduk yang membludak membuat ketergantungan masyarakat dengan sampah semakin tinggi. Begitu juga di Indonesia, kesadaran untuk mengelola sampah dengan baik masih sulit dan jarang ditemukan di Indonesia, masyarakat belum ada kesadaran untuk membuang sampah di tempatnya. 

    Salah satu faktor penyebab tercemarnya lingkungan adalah sampah plastik. Menurut Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Stastistik (BPS) menunjukkan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton pertahun.Sebanyak 3,2 juta ton diantaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Oleh sebab itu, sampah plastik menjadi kekhawatiran terbesar pemerintah dalam menjaga lingkungan  Indonesia.

    Karena kekhawatiran pemerintah dan masyarakat perihal dengan sampah plastik, seorang pemuda asal Jawa Timur membuat inovasi baru yang berasal dari bambu yakni sedotan bambu. Seperti yang kita tahu, selama ini sedotan dibuat dari plastik yang dimana digunakan selama 93,2 juta dalam sehari, dan membutuhkan waktu 500-1000 tahun untuk menghancurkannya. Beliau bernama Fahmi Ali Mufti (24), awalnya beliau hanya iseng membuat sedotan bambu tersebut untuk memberdayakan santri di pesantren. “Dikarenakan pohon bambu subur di lingkungan saya, saya berencana untuk membuat kerajinan dari bambu.” ujarnya kepada wartawan Kompas.com   


 

    Banyak tantangan serta kesulitan yang dirasakan Fahmi beserta timnya untuk pertama kali, dikarenakan masyarakat yang masih belum terbiasa dan belum mengenal sedotan bambu, tak sekali dua kali sedotan bambu Fahmi tidak laku dipasaran. Namun dikarenakan belajar dari pengalaman, Fahmi dan timnya mengganti bahan baku sedotan miliknya menjadi bambu wuluh (bambu yang bentuknya lebih kecil dan biasanya dibuat untuk membuat seruling).

    Akhirnya dengan bantuan para santri,rekan timnya, serta semangat dan usaha yang penuh, sedotan bambu Fahmi mulai dikenal, seorang pengusaha asal Surabaya itu didatangi tim ekspor Indonesia, dan pada saat itu timnya sudah menyiapkan 4000 batang sedotan bambu. Sedotan bambu tersebut di ekspor di negara Korea Selatan. Puji Tuhan respon negara Korsel baik terhadap inovasi Fahmi, dan sampai sekarang ekspor sedotan bambu Fahmi tetap dieskpor ke negara ginseng.


 

     Selain Fahmi yang berasal dari Jawa Timur berinovasi di usaha sedotan bambu ,salah satu orang muda asal Bali juga berinovasi dan melakukan hal yang sama. Pemuda itu adalah AA Gede Jayanarendra (21),owner Djaja Bamboo Straw Bali. Gung Yana mengungkapkan bahwa inovasinya ini sudah lama Ia lakukan,namun dengan adanya arahan dari pemerintah provinsi untuk berinovasi mengurangi sampah plastik,Ia beserta timnya jadi lebih mudah untuk memperkenalkan barang miliknya.

     Sedotan bambu yang dijual oleh Djaja Bamboo Straw Bali seharga Rp1.400/pcs dengan panjang 14cm dan 20cm. “Dikarenakan permintaan sedotan ini yang cukup besar, pengrajin Djaja Bamboo Straw tidak hanya berasal dari Bali, namun juga berasal dari luar Bali.” tuturnya. Gung Yana menambahkan bahwa sedotan bambu Djaja Straw bisa diperoleh dari E-Market, jadi seluruh masyarakat Indonesia bisa memakainya. Dengan menciptakan sedotan dari bambu ini, diharapkan seluruh masyarakat Indonesia bisa mengurangi penggunaan sampah plastik untuk kedepannya

    Namun dalam keberhasilannya, sedotan bambu ini tentunya memiliki tantangan serta hambatan dalam pemasarannya terutama dalam dunia ekonomi kreatif yang sedang berkembangnya di Indonesia. Banyaknya pengusaha ekonomi kreatif dengan produk-produk yang jauh lebih menarik perhatian masyarakat hingga hambatan sumberdaya alam menjadi tantangan bagi pengembangan produk kreatif ini. Ada beberapa hambatan serta tantangan yang dapat dilihat dari pengembangan sedotan bambu ini, yaitu dari sisi ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA), tantangannya dalam pemasaran, serta dari segi masyarakat juga persaingan. Indonesia dapat dikatakan salah satu negara yang memiliki berbagai jenis tanaman dan bambu adalah salah satu dari sekian banyak tanaman yang tumbuh di wilayah Indonesia yang memiliki berjuta manfaat bagi lingkungan. 


 

    Menurut data dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan (1999) ada sekitar 159 jenis bambu di Indonesia serta 88 diantaranya adalah spesies asli dari Indonesia. Bambu merupakan tanaman jenis rerumputan yang memiliki pertumbuhan yang pesat serta termasuk kedalam salah satu sumber daya yang banyak dimanfaatkan oleh manusia karena dapat diolah menjadi berbagai kerajinan karena strukturnya yang kuat dan lurus, keras, dan mudah dibentuk. Salah satu pemanfaatan tanaman bambu adalah dari produk sedotan bambu ini, namun ketersediaan sumber daya alam yang satu ini tentu sama dengan sumber daya alam lainnya yang jika digunakan secara terus menerus dapat habis serta dapat menghilangkan menghilangkan fungsinya sebagai tanaman konservasi lingkungan yang dapat menjaga ekosistem air. 

Tantangan yang kedua adalah dari segi pemasarannya, dalam dunia ekonomi kreatif yang sedang berkembangnya di Indonesia saat ini membuat banyak produk ekonomi kreatif yang harus menghadapi tantangan terkait dengan proses pemasarannya tidak terkecuali dengan produk ramah lingkungan yang satu ini. Pemasaran adalah salah satu proses yang digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya melalui pertukaran (Kotler: 2010), sebelum memasarkan produknya pelaku ekonomi kreatif perlu mempertimbangkan berbagai konsep pemasaran seperti konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, serta konsep pemasaran sosial dan konsep pemasaran global. Pelaku ekonomi kreatif juga perlu melihat serta menganalisis strategi pemasaran yang nantinya akan dilakukan, dalam kenyataannya banyak para pengusaha sedotan bambu ini yang masih mengalami hambatan dari segi pemasaran karena minat masyarakat Indonesia di sebagian tempat yang masih rendah dan sulitnya menjangkau pasar pada tahap awal produksi sampai dengan alasan kekurangan produk sedotan bambu ini jika dilihat dari kenyamanan pengguna.

    Tantangan yang ketiga adalah dari segi masyarakat. Dapat dikatakan bahwa tingkat kesuksesan atau keberhasilan sebuah produk bergantung pada masyarakat atau target pemasaran itu sendiri. Dalam pengembangan produk ekonomi kreatif yang satu ini banyak mengalami hambatan terutama karena kesadaran masyarakat yang masih kurang akan pentingnya mengurangi sampah plastik sekarang ini, banyak masyarakat yang masih acuh tak acuh melihat kenyataan saat ini dan tingkat konsumtif pun semakin meningkat bukannya berangsur menurun. Minat masyarakat menunjukkan keinginan yang praktis dan instan sehingga masih ada sebagian besar masyarakat Indonesia yang tidak memandang produk ini, mereka tidak ingin repot dengan harus membawa benda ini kemanapun hanya untuk minum serta merasa kewalahan karena penggunaan sedotan bambu ini yang mengharuskan penggunanya untuk rutin membersihkannya sesaat setelah dipakai. 


 

    Padahal selain dapat memajukan ekonomi kreatif di Indonesia, sedotan bambu ini juga dapat berperan besar dalam penanganan sampah plastik khususnya di Indonesia. Hasil penelitian Humboldt State University (HSU) pun menunjukkan manfaat dari sedotan bambu itu sendiri yang memiliki tingkat pembuangan senyawa karbondioksida yang rendah dibandingkan sedotan. Tantangan dari segi masyarakat ini sebenarnya hanya dapat diatasi oleh kesadaran masyarakat itu sendiri serta adanya dorongan dari pemerintah baik menggunakan himbauan akan produk sedotan bambu yang dapat membawa pengaruh besar baik bagi pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia maupun bagi langkah untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia. 

Hal terakhir yang menjadi tantangan serta hambatan bagi produk sedotan bambu ini adalah tingkat persaingannya dengan produk alternatif sedotan plastik lainnya, tantangan inilah yang menjadi tantangan besar dalam pengembangan produk sedotan bambu ini. Seperti yang kita ketahui dalam perkembangan ekonomi kreatif di bidang alternatif sedotan plastik saat ini menunjukkan banyak pelaku ekonomi kreatif yang membuat produk yang sama namun dengan bahan dasar yang berbeda dengan keunggulannya masing-masing sehingga ketika salah satu dari produk-produk tersebut memenuhi kriteria masyarakat maka produk lainnya pun akan turun di pasaran. Adapun beberapa ‘saingan’ produk sedotan bambu di masyarakat yaitu seperti stainless steel straw atau sedotan logam, sedotan kertas mudah terurai, sedotan silikon, hingga sedotan kaca yang memiliki keunggulan serta kelebihannya masing-masing sehingga membuat sedotan bambu yang tentunya masih memiliki kekurangan ini memiliki banyak saingan di pasaran, serta masih banyak lagi tantangan pengembangan produk sedotan bambu ini terutama dalam dunia ekonomi kreatif di Indonesia saat ini yang sedang berkembang dan memiliki banyak produk-produk kreatif lainnya.

Untuk bisa mengangkat produk lokal ke jangkauan pasar yang lebih luas, tentunya para pelaku bisnis di penjuru daerah juga dituntut untuk bisa lebih aktif dalam membangun jaringan bisnis, serta meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam mengembangkan sebuah usaha, sehingga produk yang mereka produksi benar-benar berkualitas bagus dan bisa berhasil memenangkan persaingan pasar yang ada.


 

Namun, karena terlalu fokus dengan pemasaran di luar negeri dan kota besar, kadang untuk beberapa daerah yang sulut dijangkau di dalam negeri masih sangat jarang ditemukan produk lokal yang di inovasikan. salah satunya yang kamu bahas yaitu bamboo straw.

Untuk itu kami memberi beberapa saran untuk sebaiknya dipasarkan juga ke daerah lokal. Tentu saja pemberian harga sebaiknya dibuat lebih miring. Teknik pemasaran dilakukan dengan promosi dan diberi penjelasan tentang pentingnya mengurangi sampah plastik. Agar masyarakat sendiri paham betul apa tujuan bamboo straw ini dibuat dan di jual di pasar lokal.

Kebutuhan pasar lokal dapat dilihat dengan melakukan pengamatan langsung ke pasar sasaran, sedangkan untuk ide dari pengembangan produk dapat diperoleh dengan mengenali kebiasaan pasar sasaran didaerah setempat. Pasar sasaran yang dimaksud disini yaitu kelompok pasar atau konsumen yang ditargetkan untuk membeli suatu produk, sehingga penetapan pasar sasaran suatu produk sangat penting dilakukan agar produk yang akan dibuat sesuai dengan pasar yang akan dituju.

Media promosi juga dipilih berdasarkan pasar sasaran dari produk tersebut. Bila pasar sasarannya adalah anak muda, maka media promosi yang dipilih harus media yang sesuai, misalnya promosi berupa poster yang ditempel di mading sekolah atau di majalah  remaja. Promosi juga dipengaruhi dengan cara penjualan yang dipilih. 

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan jumlah timbulan sampah secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun jika menggunakan asumsi sampah yang dihasilkan setiap orang per hari sebesar 0,7 kg. Sampah yang begitu banyak dihasilkan oleh penduduk Indonesia per hari nya membuat kewalahan para petugas dan membuat banyak sampak yang tidak terkelola kemudian dibuang ke laut ataupun sungai. Tantangannya menjadi semakin sulit ketika sampah plastik adalah sampah yang paling besar dihasilkan oleh penduduk di Indonesia. Sampah plastik merupakan sampah yang sulit terurai, maka dari itu jika penduduk Indonesia menghasilkan sampah plastik akan membahayakan lingkungan. 

    Dengan adanya penemuan bamboo straw diharapkan sampah di Indonesia dapat teratasi dan semakin membuat bangkit industri kreatif. Penemuan bamboo straw juga diharapkan dapat menjadi solusi atas dihasilkannya sampah plastik yang sangat banyak oleh masyarakat. Penemuan bamboo straw juga diharap menjadi sindiran bagi masyarakat agar semakin peduli terhadap lingkungan. Masyarakat kedepan mau tidak mau harus mengganti kebiasaannya, yang biasanya menggunakan sedotan plastik harus semakin peduli dengan cara membawa bamboo straw jika berpergian. 

    Masyarakat Indonesia mungkin banyak yang tidak asing dengan tanaman bambu. Tanaman yang memiliki fungsi dan manfaat yang sangat banyak. Di zaman sekarang banyak anak muda yang sudah peduli dengan lingkungan khususnya pada jumlah sampah yang dihasilkan penduduk Indonesia. Jumlah sampah yang semakin banyak membuat beberapa anak muda memutar otak untuk membuat berbagai macam barang yang dapat digunakan untuk mengurangi sampah di Indonesia khsuus nya sampah plastik. Beberapa anak muda kemudian terpikirkan untuk memanfaatkan bambu sebagai bahan untuk mengganti sedotan plastik menjadi sedotan bambu atau bamboo straw. 


 

    Bamboo straw memiliki manfaat yang sangat banyak untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik. Manfaat bamboo straw adalah: 

  • Mudah terurai. Bamboo straw merupakan bahan alam yang mudah terurari ketika sudah tidak digunakan kembali. Berbeda dengan sedotan plastik, sedotan plsatik memiliki sifat sulit terurai sehingga memiliki potensi untuk merusak ekosistem bumi
  •  Dapat digunakan berulang kali. Bamboo straw merupukan sedotan yang dapat digunakan berulang kali. Tak seperti sedotan plastik, sedotan plastik hanya dapat digunakan satu kali saja. Bamboo straw dapat dicuci kemudian digunakan kembali, dan sampah bamboo straw pun tidak sebanyak sampah sedotan plastik
  •  Mengandung antibakteria alami. Tanaman bambu memiliki antibakteria alami didalamnya yang membuat bamboo straw lebih steril dibandingkan produk lainnya.

     Bagaimana?Masih tertarik kah anda menggunakan sedotan plastik yang membahayakan bumi dan lingkungan?Mari kita dukung UKM masyarakat dan juga melindungi bumi,salah satunya dengan menggunakan sedotan bambu ini.


Penulis :

Anastasia Cecilia
Maria Devina
Sisiliana Kallang
Lintang Putri Pembayun

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar